Potret gedung PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang menjadi pusat kesehatan bagi warga pribumi (1950-an), (Sumber gambar:
https://muhammadiyah.or.id/berawal-dari-ide-brilian-haji-sudja-saat-ini-muhammadiyah-miliki-ratusan-layanan-kesehatan/)


Tidak pernah ada yang bisa membayangkan bahwa Rumah Sakit PKU Muhammadiyah akan menjadi salah satu lembaga kesehatan yang berkontribusi besar bagi Indonesia ini.

Mengingat pada awal pencetusannya lembaga ini sempat ditertawakan dan dianggap ide yang aneh. Hal ini bukan tanpa sebab, pasalnya tokoh yang mengusulkan ide ini, K.H.M. Sudjak menginginkan agar lembaga tersebut dibuat setara dengan lembaga kesehatan Belanda.

Memang di zaman tersebut rumah sakit atau lembaga kesehatan sudah didirikan, namun bukan oleh kalangan pribumi, melainkan pihak kolonial Belanda.

Jikapun ada biasanya lembaga tersebut dibentuk oleh lembaga zending. Misanya saja di Yogyakarta ada Rumah Sakit Petronella yang kemudian berganti nama menjadi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

Namun, dibalik keraguan dan pandangan aneh banyak pihak, organisasi ini sendiri berhasil berdiri dan terealisasi.

Artikel ini akan mengulas tentang Haji Muhammad Sudjak, dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah hingga pmikiran yang melampaui zamannya.


A. Generasi Awal Muhammadiyah

K.H.Muhammad Sudjak merupakan salah satu tokoh yang sering disebut as-sabiqulnal awwalun atau genasi awalan dalam gerakan Muhammadiyah di Yogyakarta. Istilah ini sendiri pernah dikutip dalam buku karya Lassa, dkk. yang berjudul “100 Tokoh yang Menginspirasi” (2014:156).

Bersama dengan saudara dan murid-murid lainnya seperti H. Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusumo, H. Zaini, H. Mukhtar, H.A. Badawi, dan R.H. Hadjid mereka menimba Ilmu kepada K.H. Ahmad Dahlan.

Sekal kecil Muhammad Sujak memang sudah mengenai Muhammadiyah. Bahkan ia mengenal Muhammadiyah di usia yang masih sangat muda.

Muhammad Sudjak tidak hanya tumbuh sebagai tokoh Muhammadiyah melainkan juga salah satu perumus utama dalam gerakan sosial persyarikatan. Muhammad Sudjak banyak mewarisi ide-ide sosial langsung dari K.H. Ahmad Dahlan.

Di bawah asuhan dan bimbingan sang guru, Muhammad Sudjak mendapatkan pengajaran mengenai nilai-nilai Islam progresif dan teologi Al-Maun yang menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah.

Pada tahun 1920, K.H.Muhammad Sudjak diangkat sebagai pemimpin lembaga khusus yang dibentuk oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah yaitu, PKU atau Penolong Kesengsaaran Umum.

 Lembaga ini sangatlah cocok dengan dirinya yang cenderung bertipe pemikir dan konseptor. Apalagi lembaga ini memegang amanah khusus untuk menangani isu-isu sosial.

 

Ditertawakan Ketika Mengusulkan Rumah Sakit

Perjalannya sebagai seorang tokoh Muhammadiyah tidaklah selalu berjalan mulus. ia pernah diremehkan karena dianggap mengusulkan ide gila.

Dalam sebuah kesempatan K.H. Ahmad Dahlan pernah bertanya kepada Muhammad Sudjak tentang program PKU kedepan. Lalu dijawab “ Ia hendak membangun hospital untuk menolong kepada umum yang menderita sakit”.

Ketika ditanya hendak membangun apalagi, Muhammad Sudjak menjawab “Hendak membangun Amhuis (Rumah Miskin) dan Weeshuis (Rumah yatim)”.

Konon, jawaban Muhammad Sudjak ini membuat heran para peserta Kongres Muhammadiyah bahkan ada yang mentertawakan. Ide tersebut dianggap bukan sesuatu yang lumrah pada zamannya.

Pernyataan ini dikutik dari sebuah buku karya PP Muhammadiyah yang berjudul, “Membangun Titian Menggapai Harapan” (2021:36)

Melihat ide dan gagasan Sudjak yang sempat ditertawakan, K.H. Ahmad Dahlan merespon dengan bersikap tenang dan memberikan kesempatan Sudjak untuk mewujudkan gagasannya.

Tertawaan dan respon negatif dari para peserta sidang tersebut membuat Muhammad Sudjak menjadi kecewa karena merasa diremehkan.

Berawal dari tertawaan dan respon negatif ini, Muhammad Sudjak mewujudkan PKU Muhammadiyah menjadi karya nyata amal yang berdampak besar.

Bukan hanya besar lembaga tersebut juga menjadi dasar bagi perkembangan jaringan kesehatan yang dimiliku Muhammadiyah hari ini.

Sebagai informasi hingga hari ini setidaknya adalah sekitar 26 rumah sakit Muhammadiyah di seluruh provinsi. Muhammadiyah juga diketahui memiliki 400 klinik dan keduanya dioperasikan melalui Majelis Pembina Kesehatan Umum atau MPKU.

 

Pemikiran yang Melampaui Zamannya

Pendirian Rumah Sakit PKU Muhammadiyah berawal dari sebuah klinik dan poliklinik yang didirikan pada tanggal 15 Februari 1923. Klinik tersebut pada awalnya terletak di kampung Jagang Notoprajan No. 72 Yogyakarta.

Bersama dengan klinik inilah Muhammadiyah memberikan pengobatan gratis, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu waktu itu.

Lokasi klinik PKU Muhammadiyah sendiri sebenarnya merupakan rumah pribadi dari Muhammad Sudjak sendiri. Gagasan ini agar mirip seperti K.H. Ahmad Dahlan yang turut menjadikan rumah pribadinya sebagai madrasah awal Muhammadiyah.

Pada awal pendirian Klinik PKU memang masih memiliki berbagai keterbatasan baik dari sisi fasilitas hingga penyakit yang diobati. Hal ini sangatlah wajar mengingat pendirian lembaga kesehatan sekelas rumah sakit Belanda bukanlah perkara yang mudah.

Melalui pendirian klinik PKU Muhammadiyah inilah. Muhammadiyah tercatat sebagai organisasi bumiputera pertama di Hindia Belanda yang mengelola lembaga kesehatan modern.

Mulai tahun 1925-1927 PKU mulai mengalami perkembangan dengan adanya perawatan inap yang menampung sekitar 10 pasien.

Sejak saat itu, secara perlahan namun pasti PKU Muhammadiyah berkembang menjadi Rumah Sakit yang cukup popular. Sehingga, pada tahun 1936 lokasi kliniknya pindah ke Jalan. K.H. Dahlan No. 20, Yogyakarta hingga hari ini.

Menurut sebuah artikel yang ditulis oleh Drs. M. Yusron Asrofie, M.A. yang berjudul “H. Muhammad Soedja: Perumus Gerakan Sosial Muhammadiyah”, Muhammad Sudjak berkeyakinan bahwa, jika umat non-Muslim saja mampu melakukan aksi-aksi sosial, mengapa umat Islam yang mempunyai landasan agama seperti yang tertera dalam Al-Qur’an surah Al Maun, tidak dapat melakukannya?. Hal ini mengacu pada beberapa lembaga kesehatan yang sudah didirikan pada zaman tersebut.

Muhammad Sudjak juga berprinsip bahwa, jika Allah telah menetapkan ketentuannya di dalam Alquran, pasti ketentuan itu dapat dilakukan umat-Nya, karena mustahil Allah membuat ketentuan yang tidak dapat dilakukan kaum-Nya.

Ide dan gagasan Muhammad Sudjak ini ibarat potongan puzzle yang melengkapi ide dan gagasan K.H. Ahmad Dahlan. Tidak heran jika Muhammad Sudjak dianggap sebagai pewaris jiwa sosial KH. Ahmad Dahlan.

Hingga hari ini RS PKU Muhammadiyah yang pernah ditertawakan menjadi salah satu rumah sakit yang memberikan kontribusi besar bagi Indonesia.


Referensi:

Ahmad Muarif, dkk, Membangun Titian Menggapai Harapan: 1 Abad Melayani Umat, Yogyakarta: RS PKU Muhammadiyah, 2021

 

Lasa , HS, dkk, 100 Tokoh Muhammadiyah Yang Menginspirasi, Yogyakarta: Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, 2014

 

M. Raihan Febriansyah, dkk, Muhammadiyah 100 Tahun Menyinari Negeri, Yogyakarta: Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, 2013