| Angka perceraian yang tinggi di Kabupaten Pati. Terdapat 2.406 kasus perceraian hanya di tahun 2025 saja. (Sumber: Instagram @wartaphoto) |
Setiap tahun, banyak sekali pasangan suami-istri bercerai. Di daerah asal saya (Kabupaten Pati, Jawa Tengah) selama tahun 2025 saja, ada 2.406 pasangan suami-istri bercerai. Ini baru satu kabupaten, belum lagi daerah lainnya. Jika dikumpulkan semuanya se-Indonesia, mungkin bisa sampai ratusan ribu atau bisa jadi bahkan jutaan rumah tangga bercerai setiap tahunnya.
Ada apakah gerangan ? Tentu banyak faktor yang menyebabkan perceraian, mulai faktor ekonomi, cekcok terus menerus, KDRT, perselingkuhan, hingga kecanduan judol. Namun kita tidak akan membahas hal itu.
Yang menarik, diantara ratusan ribu atau bahkan jutaan pasangan yang bercerai ini, pasti banyak yang :
❌ Menikah dengan berpedoman pada aturan adat yang ketat, yang konon jika dilanggar akan menyebabkan rumah tangga hancur. Mereka tidak berani melanggar aturan adat ini, tapi rumah tangganya tetap hancur.
❌ Banyak pula pasangan yang pakai hitung-hitungan weton. Konon katanya, jika hitung-hitungan weton cocok, maka akan menyebabkan rumah tangga langgeng & harmonis. Banyak pasangan yang menikah memperhatikan perhitungan weton ini, tapi rumah tangganya tetap kandas.
❌ Banyak pula pasangan yang menikah dengan memperhatikan hitungan "hari baik". Mereka menikah di tanggal yang dianggap sebagai "hari baik", yang konon akan membuat pernikahan mereka langgeng & harmonis seterusnya. Tapi tetap saja, mereka akhirnya bercerai.
❌ Banyak pula dari mereka yang nikah dengan mahar & seserahan yang fantastis. Banyak pula dari mereka yang menggelar pesta pernikahan yang sangat mewah. Namun, kemewahan & biaya fantastis yang dikeluarkan itu ternyata tidak mampu menyelamatkan rumah tangganya dari perceraian.
❌ Banyak pula dari mereka yang sudah pacaran bertahun-tahun sebelum menikah. Logikanya, mereka harusnya sudah sangat mengenal karakter pasangannya masing-masing. Tapi ternyata setelah menikah, pernikahannya justru berakhir.
Sebaliknya, banyak yang :
✅ Nikah sederhana (bahkan nikah gratis di KUA & walimahnya juga sangat sederhana),
✅ Nikah dengan proses ta'aruf tanpa pacaran,
✅ Nikah tanpa menghitung weton & hari baik-hari buruk (ada pula yang setelah dihitung wetonnya ternyata "tidak cocok"),
✅Nikah dengan "melanggar aturan adat / mitos" (misal : Orang Jawa menikah dengan Orang Sunda),
Tapi rumah tangganya SAKINAH, MAWADDAH, WARRAHMAH, LANGGENG, DAN HARMONIS !
Jadi, kunci langgengnya pernikahan itu bukanlah karena biaya yang mahal, mahar yang fantastis, pesta pernikahan yang megah, pacaran yang lama, dan mengikuti aturan adat & mitos ini itu.
Kunci utama langgengnya pernikahan adalah SALING MEMAHAMI & SALING MENGHARGAI. Seorang istri harus memahami peran serta tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu, serta memahami bagaimana lelahnya suaminya bekerja keras membanting tulang demi keluarga. Ia juga harus menghargai pemberian dari suaminya, sekecil apapun dan tidak menuntut lebih di luar batas kemampuan suaminya.
Jika seorang istri tidak dapat memahami betapa lelahnya suaminya, selalu menuntut lebih, dan tidak menghargai apapun yang dilakukan oleh suaminya, bahkan sampai membanding-bandingkannya dengan laki-laki lain, maka siap-siaplah rumah tangganya akan menuju kehancuran !
Begitu juga jika seorang suami tidak mampu untuk memahami peran dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan ayah, tidak mau memahami betapa capeknya istrinya mengurus rumah dan mendidik anak, dan tidak menghargai apapun yang diberikan istrinya, siap-siaplah rumah tangganya akan hancur pula.
Semoga Allah SWT karuniakan kepada kita semua rumah tangga yang Samawa, putra-putri yang sholeh-sholehah, dan kehidupan yang penuh berkah. Aamiin yaa Rabbal 'Aalamiin.