Tri Febriandi Amrulloh, M.Ag. (kiri) menyerahkan sertifikat kepada Bayu Firdaus, S.Pd. (kanan) sebagai narasumber Workshop Klinik Kemasjidan 5.0 di Masjid Al Furqon Muhammadiyah Mlirip, Jetis, Mojokerto.


Oleh: Tri Febriandi Amrulloh, M.Ag

Perubahan wajah masjid tidak selalu dimulai dari pembangunan fisik. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan karakter masyarakat, transformasi masjid justru dapat dimulai dari perubahan cara berpikir para takmirnya.

Paradigma takmir masjid yang selama ini identik dengan pengelolaan kegiatan rutin, administrasi, saldo infak, dan dokumentasi kegiatan perlu bergerak menuju paradigma baru: takmir yang berdaya, adaptif, kreatif, dan berorientasi pada pelayanan umat.

Gagasan tersebut dipraktikkan oleh dua Da’i Digital LDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yakni Bayu Firdaus, S.Pd. dan Tri Febriandi Amrulloh, M.Ag. Keduanya tidak hanya aktif dalam kanal dakwah digital dibawah naungan LDK PP Muhammadiyah, tetapi juga mengemban amanah sebagai pengelola masjid di dua kabupaten berbeda.

Bayu Firdaus yang berdomisili di Sidoarjo mengemban amanah sebagai Sekretaris Takmir Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo. Sementara Tri Febriandi Amrulloh yang kini berdomisili di Mojokerto dipercaya sebagai Ketua Takmir Masjid Al Furqon Muhammadiyah Mlirip, Jetis, Mojokerto.

Keduanya memperlihatkan bagaimana peran takmir pada era 5.0 tidak cukup hanya memastikan masjid tetap berjalan. Takmir dituntut mampu membaca perubahan, membangun komunikasi dengan masyarakat, mengoptimalkan teknologi, sekaligus memastikan masjid benar-benar hadir memberikan kemanfaatan.

Mengubah Paradigma Takmir Masjid

Menurut Bayu, salah satu tantangan pengelolaan masjid saat ini adalah masih kuatnya paradigma konvensional dalam memandang keberhasilan sebuah masjid. Salah satunya terlihat dari kebanggaan ketika masjid mampu mengumpulkan saldo infak dalam jumlah besar, sementara dana tersebut belum sepenuhnya dikonversikan menjadi program yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Realita takmir hari ini masih menggunakan paradigma konvensional, seperti bangga menimbun saldo ratusan juta hingga miliaran di bank atau kotak masjid,” ujar Bayu.

Baginya, paradigma tersebut perlu diubah menjadi paradigma berdaya dan melayani.

“Paradigma seperti itu harusnya diganti dengan paradigma berdaya dan melayani. Bangga mengalirkan atau menyalurkan saldo hingga mendekati nol rupiah demi kemanfaatan umat,” tegasnya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan Bayu dalam Klinik Kemasjidan 5.0 bertajuk “Ketika Konten Masjid Bisa Menghasilkan Miliaran Rupiah” yang digelar di Masjid Al Furqon Muhammadiyah Mlirip, Jetis, Mojokerto, Sabtu (5/9/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan para pengelola masjid dan aktivis kemasjidan dari sejumlah daerah, termasuk Mojokerto, Jombang, dan Lamongan. Bagi Bayu, perubahan paradigma takmir tidak dapat dipisahkan dari kemampuan masjid membaca arah perkembangan teknologi.

Media sosial menurutnya, tidak seharusnya hanya digunakan untuk mengunggah foto kegiatan setelah acara selesai. Media sosial harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi dakwah, pelayanan, komunikasi, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.

Lintas Kabupaten, Satu Semangat Transformasi Kemasjidan

Menariknya, gagasan tersebut tidak hanya disampaikan dalam ruang seminar atau workshop. Bayu dan Tri sama-sama mempraktikkannya melalui amanah yang mereka emban di masjid masing-masing.

Bayu melalui Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo, menunjukkan bagaimana media sosial dapat digunakan untuk membangun ekosistem dakwah dan pelayanan yang lebih luas.

Masjid yang berada di kawasan industri tersebut mengembangkan berbagai layanan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Mulai dari makan gratis, fasilitas bagi musafir, kopi yang tersedia selama 24 jam, hingga berbagai bentuk pelayanan lainnya. Melalui ekosistem tersebut, media sosial kemudian menjadi jembatan yang menghubungkan masjid dengan masyarakat dari berbagai daerah.

Bayu mengungkapkan, ketika usia Masjid Ar Royyan belum genap satu tahun, penghimpunan infak yang terbangun melalui jaringan masyarakat telah mencapai angka miliaran rupiah. Namun, capaian tersebut tidak berhenti sebagai angka dalam rekening masjid.

Dana yang dihimpun kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan dan program kemanfaatan. Di sinilah konsep masjid berdaya dan melayani mendapatkan bentuk konkretnya.

Sementara itu, di Mojokerto, Tri Febriandi Amrulloh, M.Ag. berupaya menerapkan paradigma serupa melalui amanahnya sebagai Ketua Takmir Masjid Al Furqon Muhammadiyah Mlirip, Jetis. Di bawah pengelolaannya, masjid didorong untuk tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga hadir sebagai ruang dakwah, edukasi, pemberdayaan, pelayanan, dan interaksi masyarakat.

Transformasi tersebut salah satunya diwujudkan melalui penguatan media sosial masjid. Media sosial tidak ditempatkan sekadar sebagai etalase dokumentasi kegiatan, melainkan sebagai mimbar digital yang memungkinkan masjid menyampaikan dakwah sekaligus berkomunikasi dengan masyarakat tanpa dibatasi jarak geografis.

Semangat tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai program nyata. Salah satunya melalui Pengajian Umum Ahad Pagi yang dipadukan dengan pemberian santunan kepada anak yatim, dhuafa, serta fakir dan miskin di sekitar masjid. Dengan demikian, kegiatan dakwah tidak berhenti pada penyampaian materi keagamaan, tetapi dilanjutkan dengan aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Praktik tersebut sejalan dengan tagline Masjid Al Furqon, “Mencerahkan Umat Lewat Amal Nyata.”

Berbagai aktivitas tersebut kemudian dikemas melalui konten media sosial yang edukatif dan inspiratif. Dengan pendekatan ini, media sosial menjadi sarana untuk memperluas jangkauan dakwah sekaligus mengajak masyarakat terlibat dalam berbagai gerakan kebaikan yang lahir dari masjid.

Da’i Digital yang Turun Menjadi Takmir

Persinggungan antara dakwah digital dan kepemimpinan masjid menjadi kekuatan tersendiri dari Bayu dan Tri. Keduanya merupakan Da’i Digital LDK PP Muhammadiyah yang tidak hanya berbicara mengenai pemanfaatan teknologi dalam dakwah, tetapi juga menjalankan langsung amanah pengelolaan masjid.

Posisi tersebut membuat dakwah digital tidak berhenti pada produksi konten. Ada proses membangun ekosistem. Ada upaya membangun kepercayaan. Ada pelayanan kepada jamaah. Dan ada tanggung jawab memastikan dukungan masyarakat yang dihimpun melalui media sosial benar-benar kembali menjadi kemanfaatan.

Dalam konteks inilah, masjid di era digital tidak cukup hanya memiliki akun Instagram, TikTok, YouTube, atau platform digital lainnya. Yang jauh lebih penting adalah apa yang hendak disampaikan melalui platform tersebut dan perubahan apa yang ingin dihadirkan melalui dakwah digital tersebut.

Selain itu, transformasi takmir juga membutuhkan perubahan cara pandang terhadap generasi muda. Bayu menilai anak muda tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai pelaksana teknis kegiatan masjid. Mereka perlu diberikan ruang untuk menjadi subjek yang ikut menentukan arah inovasi dan syiar masjid.

“Anak muda dirangkul sebagai subjek utama penggerak inovasi syiar, bukan sebagai pelaksana,” jelasnya.

Menurutnya, tantangan dakwah terus berubah. Karena itu, cara masjid berdakwah dan memberikan pelayanan juga harus ikut berkembang.

“Kalau tantangan berubah, maka cara dakwah dan pengelolaan masjid juga perlu menyesuaikan atau naik kelas,” katanya.

Dalam konteks tersebut, generasi muda memiliki posisi strategis karena lebih dekat dengan perkembangan teknologi, budaya digital, serta pola komunikasi masyarakat saat ini. Masjid perlu hadir di ruang yang sama dengan umatnya. Jika masyarakat menghabiskan waktu di media sosial, maka masjid juga harus mampu menghadirkan nilai-nilai dakwah dan kemanfaatan di ruang tersebut.

Di titik inilah peran dua Da’i Digital LDK PP Muhammadiyah tersebut menjadi menarik. Bayu Firdaus melalui amanahnya di Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo, dan Tri Febriandi Amrulloh melalui amanahnya di Masjid Al Furqon Muhammadiyah Mlirip, Mojokerto, sama-sama memperlihatkan bahwa menjadi takmir pada era digital bukan sekadar mengurus masjid.

Menjadi takmir berarti menghidupkan masjid agar mampu menghidupkan umat. Dari Sidoarjo hingga Mojokerto, semangatnya sama, yaitu membawa masjid keluar dari paradigma pengelolaan konvensional menuju masjid yang berdaya, adaptif, kreatif, dan melayani.

Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah masjid bukan hanya seberapa besar bangunannya atau seberapa banyak saldo yang tersimpan, tetapi seberapa besar kemanfaatan yang mengalir dari masjid kepada umat.