Oleh : Mahfan Khalilurrahman, S.Pd., MA (Da'i Digital PP Muhammadiyah)

Makna Hijrah 

Para ahli bahasa berbeda pendapat dalam mengartikan kata “hijrah” namun kesemuanya berkesimpulan bahwa hijrah adalah menghindari/menjauhi diri dari sesuatu, baik dengan raga, lisan dan hati. Hijrah dengan raga berarti pindah dari suatu tempat menuju tempat lain. Hijrah dengan lisan berarti menjauhi perkataan kotor dan keji. Sementara hijrah dengan hati berarti menjauhi sesuatu tanpa menampakkan perbuatan. 

Makna hijrah menurut Al-Qur’an memiliki beberapa pengertian, dimana kata hijrah disebutkan dalam Al-Qur’an lebih 28 kali di dalam berbagai bentuk dan makna. Adapun makna hijrah itu sendiri seperti yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an adalah sebagai berikut. 
  • a. Hijrah dapat berarti pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain untuk mencari keselamatan diri dan mempertahankan aqidah. Seperti firman Allah, 
 وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةًۗ

“Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak”. (QS. An-Nisa: 100) 
  • b. Hijrah dapt berarti pisah ranjang antara suami dan istri, seperti firman Allah,
 وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّۚ

"Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka." (QS. An-Nisa: 34) 
  • c. Hijrah bisa berarti mengisolir diri, seperti ucapan ayahnya Nabi Ibrahim kepada beliau,
قَالَ اَرَاغِبٌ اَنْتَ عَنْ اٰلِهَتِيْ يٰٓاِبْرٰهِيْمُۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهِ لَاَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِيْ مَلِيًّا

"Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama" (QS. Maryam: 46)

Hijrah adalah sunnatullah 

Hijrah adalah sunnatullah dalam hidup ini. Dan sudah dicontohkan oleh para Nabi dan rasul, nabi Ibrahim, Yunus, Yusuf, Musa dan terakhir Nabi Muhammad Saw. Oleh sebab itu, mereka melakukannya. Tanpa hijrah, mustahil mereka bisa menegakkan agama Allah. Tanpa hijrah, tidak mungkin para pengikut setia mereka dapat keluar dan bebas merdeka dari sistem jahiliyah dan penindasan yang dilakukan para penguasa zalim terhadap mereka, apalagi untuk menjalankan agama Allah dengan sempurna. 

Maka dari itu, siapapun dari umat Islam yang tidak mau berhijrah, maka cukuplah baginya Ancaman Allah : (QS An-Nisaa' [4]: 97–98).
 
اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَالُوْا فِيْمَ كُنْتُمْۗ قَالُوْا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِى الْاَرْضِۗ قَالُوْٓا اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَاۗ فَاُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًاۙ

"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya: 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?' Mereka menjawab: 'Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).' Para malaikat berkata: 'Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?' Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." 

اِلَّا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاۤءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ حِيْلَةً وَّلَا يَهْتَدُوْنَ سَبِيْلًاۙ

"Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui cara (untuk hijrah)," 

Apa makna Hijrah dan urgensinya dalam kehidupan ini? 

Beberapa makna dan urgensi hijrah dalam kehidupan ini antara lain: 

1. Hijrah Momentum Perubahan 

Hijrah yang bermakna berpindah dan bergerak secara fisik masih terus relefan. Siapa yang ingin maju, sukses, merubah dirinya, meningkatkan kualitas dirinya. Meingkatkan taraf hidupnya, harus berpindah atau berhijrah secara fisik. Dari desa menuju kota untuk bekerja, keluar dari kampung halaman untuk menuntut ilmu, dan lain-lain. 

قَالُوْٓا اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَاۗ

''Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi ini?" (QS An-Nisaa' 97).

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah hijrah maknawi, berubah dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang sudah baik menjadi baik lagi. Merubah diri dari kebodohan menuju kecerdasan, pindah dari kemiskinan dan kemalasan. Menjauh dari kemaksiatan menuju keshalehan, dan terus meningkatkan kualitas diri dalam iman dan taqwa. Bukankah Allah menegaskan bahwa: 

 اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

"Sungguh, Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d: 11). 

Jika Ingin badan sehat dan kuat harus oleh raga teratur, mau cerdas harus belajar, mau kaya harus kerja keras, inilah spirit hijrah sejati yang harus kita pahami, walau hijrah atau berpindah secara fisik adalah sebuah keniscayaan atau keharusan.

2. Hakekat hijrah yang selanjutnya adalah :
 أهمية التخطيط فِ الحياة

Urgensi perencanaan / planning dalam kehidupan ini. 

Rasulullah sebelum hijrah ke Madinah, sudah jauh-jauh hari beliau persiapkan. Bagaimana ia keluar dari Mekkah, bagaimana ia mengelabui kaum musyrikin Mekkah, dengan siapa ia pergi berhijrah, jalan mana yang akan ia lalui, apa yang akan beliau lakukan setibanya di Madinah, semua beliau rencanakan dengan matang. 

Maka ia memilih sahabatnya Abu Bakar, singgah terlebih dahulu di gua Tsur, memilih jalan yang tidak biasa dilalu orang, meminta bantuan Abdullah bin Uraiqit untuk menjadi petunjuk jalan, beliau singgah dulu di pemukiman Quba dan mendirikan masjid pertama kali di sana. Kemudian sesampainya beliau di Madinah, Beliau mendirikan masjid sebagai sentra ibadah dan kegiatan umat, mempersaudarakan kaum muhajirin dan Anshar, mengikat perjanjian dengan kaum yahudi dan nasrani yang ada di Madinah, dan lain lain sebagaimnya. Semua beliu rencanakan dengan sebaik-baiknya atas bimbingan wahyu dari Allah, sehingga Islam bisa berkembang dengan sebaik-baiknya sampai sekarang. 

Oleh karena itu, belajar dari hijrah, berarti kita belajar perencanaan dalam kehidupan ini. Rencanakan apa yang menjadi keinginan dan cicta-cita, seraya berharap Allah melimpahkan rahmat dan barakah-Nya untuk kita. 

3.3. Hakekat hijrah yang selanjutnya al harakah atau gerak: 

الهجرة هي الحركة، والحركة بركة

Hijrah dalah bergerak, dan bergerak akan mendatangkan keberkahan. 

Inilah mengapa KH A. Dahlan menamakan Muhmmadiyah dengan “gerakan dakwah amal Ma’ruf nahi Mungkar”, agar terus bergerak, tidak diam, bukan statis. Makna yang Allah hendak sampaikan dengan perintah Hijrah adalah “perintah untuk bergerak”. Allah berfirman:

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Al-Jumu’ah: 10) 

Dan Gerak adalah sunnatullah, jantung kita tidak pernah berhenti bergerak, nafas kita, nadi kita, otak kita, dan organ tubuh kita senantiasa bergerak, walau kita tidak sadari. Bumi, matahari, bulan, bintang, angin, awan, siang malam, semua bergerak atas ketentuan Allah:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۖ كُلٌّ يَّجْرِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى وَّاَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

"Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sungguh Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Luqman : 29)

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

"Sungguh, dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pergerakan angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Al-Baqarah : 164).

Bahkan gunung yang menurut kita diam, ternyata dia bergerak:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِۗ صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍۗ اِنَّهٗ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَفْعَلُوْنَ

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. An-Naml : 88) 

Bergerak bukan saja penting untuk makhluk hidup, namun penting pula untuk benda mati. Alat elektronik yang tidak dipakai, cenderung cepat rusak, roda kendaraan yang tidak dipakai akan mudah kempes, air yang tergenang dan tidak mengalir akan kotor dan timbul berbagai penyakit, berbeda dengan air yang mengalir. 

Apa yang didapat dari Hijrah? 

Lalu apa yang akan kita dapatkan jika berhijrah di Jalan Allah? 
  • A. Jalan meraih derajat agung di sisi Allah dan kemenangan di akhirat, sebagaimana firman-Nya dalam surat At-taubah/9 : 20:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, derajat mereka paling tinggi di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

  • B. Allah menjanjikan kelapangan rezki dan jaminan meraih syurga, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Annisa’ / 4 : 100 :
وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةًۗ وَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًاࣖ

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

  • C. Hijrah adalah bukti nyata bagi orang-orang yang benar-benar beriman pada Allah dan Rasul-Nya, serta jaminan bagi mereka memperoleh ampunan dan syurga Allah. Allah berfirman dalam surat Al-Anfal / 8, ayat 74 : 
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” 

  • D. Hijrah itu juga bukti solidaritas, kesetiakawanan dan loyalitas ummat Islam serta bukti termasuk ke dalam golongan umat Nabi Muhammad Saw. seperti yang Alllah jelaskan dalam surat Al-Anfal / 8 ayat 75 berikut :
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْۢ بَعْدُ وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا مَعَكُمْ فَاُولٰۤىِٕكَ مِنْكُمْۗ وَاُولُوا الْاَرْحَامِ بَعْضُهُمْ اَوْلٰى بِبَعْضٍ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌࣖ 

“Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”