Pemandangan kota Istanbul (sumber: magnific.com)

Turki adalah negeri yang memiliki pesona luar biasa. Bagi banyak orang, negara yang terletak di persimpangan Asia dan Eropa ini terasa seperti negeri dalam dongeng. Kota Istanbul dengan kemegahan bangunan-bangunan bersejarah peninggalan Kesultanan Utsmani (Ottoman), masjid-masjid megah yang berdiri berdampingan dengan selat Bosphorus, hingga suasana kota yang memadukan tradisi Timur dan modernitas Barat, menjadi daya tarik yang sulit ditolak.

Belum lagi Cappadocia yang terkenal dengan balon udara warna-warni yang menghiasi langit saat matahari terbit. Pemandangan alam yang indah, pegunungan bersalju di musim dingin, taman-taman yang bermekaran saat musim semi, serta hamparan dedaunan yang menguning pada musim gugur membuat Turki tampak begitu romantis. Ditambah lagi dengan kuliner khas seperti kebab, baklava, kunefe, dan berbagai hidangan lezat lainnya yang semakin menambah daya tarik negeri tersebut.

Tak heran jika Turki menjadi salah satu destinasi impian banyak orang, termasuk masyarakat Indonesia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pesona Turki tidak hanya melahirkan tren wisata, tetapi juga tren pernikahan campuran antara perempuan Indonesia dan laki-laki Turki yang semakin marak.

Setiap hari, hampir selalu ada konten atau postingan di Instagram, TikTok, Facebook, maupun YouTube yang menampilkan romantisme pasangan Indonesia–Turki. Mulai dari video pernikahan yang megah, kehidupan rumah tangga yang terlihat harmonis, hingga momen jalan-jalan romantis. Selain itu, tidak sedikit pula kita temui di platform-platform medsos tersebut atau di dating apps, laki-laki Turki yang secara terbuka menyatakan sedang mencari pasangan hidup dari Indonesia.

Fenomena ini pada akhirnya menciptakan kesan bahwa menikah dengan pria Turki adalah sebuah impian yang sangat ideal. Bahkan di berbagai platform media sosial atau di kolom komentar postingan atau konten medsos tersebut, sering ditemukan perempuan Indonesia yang secara terang-terangan meminta tolong untuk dicarikan calon suami orang Turki, atau minimal memuji pria Turki sambil membanding-bandingkan mereka dengan pria Indonesia. Mereka seakan menganggap pria Turki adalah "lelaki sempurna". Mereka menganggap bahwa pria Turki adalah sosok pria tampan nan romantis, bertanggung jawab, meratukan istri, serta religius, sangat berbeda dengan laki-laki Indonesia. Bahkan telah terjadi pula kasus seorang istri yang tega menceraikan suaminya, demi bisa menikah dengan pria Turki.

Pernikahan Campuran yang Tidak Sesuai Ekspektasi

Namun benarkah klaim banyak perempuan Indonesia bahwa pria Turki adalah "lelaki sempurna" ? Di sinilah persoalannya.

Kekaguman terhadap suatu bangsa tentu merupakan hal yang wajar. Namun ketika kekaguman tersebut berubah menjadi glorifikasi berlebihan, maka seseorang berpotensi kehilangan kemampuan untuk melihat realitas secara objektif. Tidak sedikit perempuan yang akhirnya membangun ekspektasi bahwa menikah dengan pria Turki akan otomatis membawa kehidupan yang lebih bahagia, lebih romantis, dan lebih sejahtera dibandingkan menikah dengan sesama warga negara Indonesia.

Padahal, sebagaimana pernikahan pada umumnya, banyak pernikahan campuran Indonesia–Turki tidak selalu berjalan sesuai impian.

Di balik berbagai konten romantis yang beredar di media sosial, terdapat pula sejumlah kisah yang jarang terekspos. Tidak sedikit kasus-kasus pernikahan campuran Indonesia-Turki yang diwarnai konflik serius, termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kontrol berlebihan dari pasangan, hingga campur tangan keluarga besar atau mertua yang sangat dominan dalam kehidupan rumah tangga.

Dalam beberapa kasus, terdapat perempuan Indonesia yang mengalami kesulitan ketika tinggal di Turki setelah menikah. Ada yang menghadapi kendala administrasi, ada yang kesulitan mengurus izin tinggal, bahkan ada yang merasa terisolasi karena tidak menguasai bahasa Turki. Sebagian juga mengeluhkan sulitnya beradaptasi dengan budaya setempat yang berbeda dengan kebiasaan di Indonesia.

Masalah lainnya adalah ketergantungan ekonomi dan geografis. Ketika seorang perempuan Indonesia tinggal di Turki bersama suaminya, posisinya sering kali jauh dari keluarga dan sistem pendukung yang selama ini menjadi tempat bergantung. Jika terjadi konflik rumah tangga, tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk langsung pulang ke Indonesia.

Harga tiket pesawat rute Istanbul–Jakarta tidaklah murah. Dalam kondisi darurat sekalipun, biaya perjalanan pulang bisa menjadi beban yang sangat besar. Akibatnya, sebagian perempuan terpaksa bertahan dalam situasi yang tidak nyaman karena keterbatasan pilihan yang dimiliki.

Selain itu, kehidupan di Turki sendiri tidak selalu semewah atau seindah yang ditampilkan dalam media sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Turki menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat. Tingkat inflasi yang tinggi berdampak pada kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Harga sewa apartemen di kota-kota besar terus meningkat. Biaya hidup menjadi semakin mahal. Harga makanan, transportasi, utilitas rumah tangga, hingga kebutuhan sehari-hari mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Belum lagi persoalan culture shock. Perbedaan bahasa, pola komunikasi, adat keluarga, kebiasaan makan, cara mendidik anak, hingga cara memandang hubungan antara suami dan istri bisa menjadi sumber konflik yang tidak kecil. Makanan Turki yang lezat bagi wisatawan belum tentu cocok untuk dikonsumsi setiap hari oleh orang Indonesia. Cuaca empat musim yang terlihat indah dalam foto juga bisa menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang terbiasa hidup di negara tropis.

Aspek lain yang sering diabaikan adalah biaya dan kerumitan administrasi pernikahan lintas negara. Pengurusan dokumen, legalisasi berkas, penerjemahan dokumen resmi, proses keimigrasian, hingga berbagai persyaratan hukum membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Semua itu perlu dipersiapkan secara matang sebelum memutuskan untuk menikah.

Buku "The Untold Story of Mixed Marriage with Turkish" karya Mutia Jurnalis. Buku ini menyoroti sisi lain yang jarang terekspos mengenai realita pernikahan campuran antara perempuan Indonesia dan Pria Turki. (Sumber: kbm.id)


Harus Tetap Gunakan Akal Sehat !

Bagi sebagian orang Indonesia yang membayangkan kehidupan bak drama romantis Turki, realitas tersebut tentu bisa menjadi kejutan besar.

Karena itu, perempuan Indonesia yang tertarik menikah dengan pria Turki sebaiknya tidak hanya melihat sisi romantis yang ditampilkan media sosial. Penting untuk melakukan riset mendalam mengenai budaya, kondisi ekonomi, sistem hukum, hingga karakter pribadi calon pasangan. Jangan sampai keputusan besar dalam hidup diambil hanya berdasarkan konten-konten viral yang menampilkan sisi indah tanpa memperlihatkan tantangan yang menyertainya.

Pada akhirnya, artikel ini tidak bermaksud menjelek-jelekkan bangsa Turki ataupun melarang pernikahan campuran Indonesia–Turki. Banyak pula pasangan Indonesia–Turki yang berhasil membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia hingga bertahun-tahun.

Namun demikian, perempuan Indonesia perlu bersikap lebih kritis dan berhati-hati. Jangan sampai impian memiliki suami bule berparas tampan, keinginan berjalan-jalan di Istanbul atau Cappadocia, serta rayuan manis yang terdengar romantis membuat akal sehat berhenti bekerja. Pernikahan adalah keputusan jangka panjang yang menyangkut masa depan, bukan sekadar kisah indah untuk dipamerkan di media sosial.

Menikahlah karena kualitas pribadi calon pasangan, kesiapan membangun rumah tangga, serta kesamaan visi kehidupan. Bukan semata-mata karena impian ingin punya suami bule, mengikuti tren, atau iming-iming romantisme yang terlihat indah di layar ponsel.

Oleh :

Jerry Kwok Liauw (Da'i Digital LDK PP Muhammadiyah)