Di penghujung bulan juni, tepatnya tanggal 29, di negara kita tercinta ini diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). Peringatan Harganas ini dicanangkan langsung oleh presiden Indonesia ke-2, Bapak Soeharto, dan diperingati pertama kali pada tahun 1993 silam.
Sepertinya, peringatan Harganas ini tidak terlalu popular di masyarakat. Saya pribadi pun baru mengetahui Harganas ini pada tahun 2019. Kebetulan saat itu saya aktif jadi relawan di sebuah LSM yang memang concern dengan tema keluarga. Saat itu diundang untuk hadir seminar dalam rangka peringatan Harganas 2019 di Balai Kota DKI Jakarta.
Saya masih ingat, saat itu sempat posting ucapan Selamat Hari Keluarga Nasinal di medsos. Ada teman yang kemudian mengomentari wa story yang saya bagikan, “Lho, ada ya hari keluarga. Baru tau saya.” Dan itu beberapa teman yang menanyakan seperti itu.
Di momen peringatan hari keluarga ini, mari kita gunakan untuk mengingat-ingat keluarga kita. Mengingat bagaimana kita memulai dan membangunnya pertama kali, melewati dan menghadapi suka duka bersama, dan bagaimana kondisinya saat ini. Mungkin ada yang kondisinya baik-baik saja, bahkan sangat baik dibanding saat pertama kali keluarga tersebut dibangun. Tetapi tidak menutup kemungkinan, ada yang merasa bahwa keluarga saat ini sedang tidak baik-baik saja, bahkan berada di ujung tanduk.
Di momen hari keluarga ini, mari kita ingat kembali bahwa keluarga ini dibangun dengan mitsaqan gholidho, perjanjian agung dihadapan Allah SWT. Maka sebisa mungkin kita harus menjaganya, berbahagia bersama, selama di dunia hingga ke surga. Inilah momen bagi kita mendekatkan lagi dengan keluarga. Inilah momen bagi kita untuk membuat keluarga kita menjadi serasa surga di dunia. Seperti kata Marie von Ebner Eschenbach, “Bila di dunia ini ada surga, surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Bila di dunia ini ada neraka, neraka itu adalah pernikahan yang gagal.”
Di momen hari keluarga ini, mari kita kembali mengingat-ingat keluarga kita. Bahwa merekalah sebenarnya sumber kebahagiaan kita.