Tak ada tempat yang membutuhkan kata pengorbanan lebih banyak seperti halnya keluarga. Hakikat dan tabiat sebuah keluarga adalah pengorbanan. Tanpa pengorbanan, sebuah keluarga tak akan bisa bertahan dalam waktu yang lama. Tanpa pengorbanan, sebuah keluarga akan kehilangan makna kekeluargaannya.

Inti dari pengorbanan adalah memberikan sesuatu untuk orang lain atau melakukan sesuatu bukan untuk dirinya sendiri. Pengorbanan itu meluangkan waktu, memeras tenaga, menguras pikiran, mengucurkan keringat, mengeluarkan harta, bahkan merelakan darah dan nyawanya. Bukan untuk kepentingan dirinya, tapi untuk kepentingan orang lain. Itulah pengorbanan. Dan keluarga adalah tempat di mana orang-orang di dalamnya terus menerus melakukan pengorbanan dengan ikhlas, tanpa kenal lelah.

Pengorbanan Seorang Suami/Ayah

Seorang suami/ayah akan melakukan banyak pengorbanan untuk istri dan anaknya. Seorang suami/ayah yang bertanggung jawab akan mengorbankan apa saja untuk kebaikan dan kebahagiaan keluarganya. Kalau meminjam istilah Ebiet G. Ade, meskipun keringat mengucur deras namun ia tetap tabah; meski napas kadang tersengal karena memikul beban yang makin sarat, tapi ia akan tetap bertahan. Itulah pengorbanan seorang suami untuk istrinya. Itulah pengorbanan ayah untuk putra-putrinya.

Seorang suami/ayah rela pergi pagi pulang pagi untuk mengais rezeki, untuk kelangsungan hidup anak dan istri. Seorang suami/ayah rela mempertaruhkan dirinya untuk menjaga kehormatan keluarganya. Seorang suami/ayah akan mencoba mengubur semua kesedihannya, agar keluarganya tetap bahagia. Itulah pengorbanan suami/ayah.

Pengorbanan Seorang Istri/Ibu

Seorang ibu banyak melakukan pengorbanan untuk keluarganya. Ia banyak melakukan pengorbanan untuk anak-anaknya. Mengandung selama 9 bulan, menyusui, merawat dan meramut seorang anak hingga dewasa. Semua itu adalah pengorbanan yang sangat besar.

Seorang ibu rela bangun paling pagi, memasak, menyiapkan pakaian suami dan anaknya, dan aktivitas rumah tangga lainnya. Berapa banyak ibu yang rela meninggalkan karirnya yang cemerlang hanya untuk all out mengurus keluarganya. Ia bekerja dari pagi hingga pagi di rumahnya, yang pekerjaan seakan tidak ada habisnya, tetapi seringkali orang melihat bahwa ia tidak bekerja, karena tidak mendapat gaji dari apa yang dilakukannya. Itulah pengorbanan.

Berapa banyak juga seorang ibu yang ikutan membanting tulang untuk membantu keuangan keluarga, karena penghasilan suami masih belum cukup. Dan di tengah kesibukan berkarir ‘di luar’, ia tidak melalaikan kewajiban sebagai ibu rumah tangga, mengurus suami dan anak-anaknya. Itulah pengorbanan.

Menanamkan Nilai Pengorbanan Pada Anak

Pada zaman Umar bin Khattab, ada seorang anak yang sangat berbakti pada ibunya. Ia benar-benar mengamalkan perintah agama untuk berbuat baik dan memuliakan orang tua. Ketika ia sedang thawaf sambil menggendong ibunya yang lumpuh, ia bertemu pada Umar bin Khattab. Kepada sahabat nabi yag mulia itu, ia bertanya, “Apakah pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku?” Umar menjawab, “Tidak! Tidak Cukup! Karena kamu melakukannya sembari menunggu kematiannya, sementara ibumu merawatmu sembari mengharap kehidupanmu.”

Pengorbanan orang tua untuk anaknya tidak perlu diragukan lagi. Begitu besarnya pengorbanan orang tua untuk anaknya, sehingga seorang anak sebenarnya tidak pernah bisa membalas budi pada orang tuanya. Maka sudah seharusnya orang tua menularkan nilai pengorbanan yang sedemikian luhur ini kepada anak-anaknya. Memberi tanpa harap untuk menerima. Berbuat baik tanpa mengharap balasan, kecuali hanya kepada Allah Swt.

Menanamkan nilai pengorbanan pada anak harus dimulai dari orang tua terlebih dahulu. Bagaimana agar semua yang kita lakukan untuk anak-anak kita ini, benar-benar kita lakukan dengan ikhlas tanpa mengharap balasan dari anak. Biarlah Allah SWT yang membalas pengorbanan yang kita lakukan untuk anak-anak kita. Itulah yang harus kita lakukan. Terus berkorban dengan ikhlas tanpa lelah, untuk keluarga tercinta. Semoga dengannya hidup kita menjadi lebih bahagia dan penuh berkah.